1.4.08

ANEKDOT SI GILA & PESAN TANPA TEKS

Pujianto

ANEKDOT SI GILA

(Sebuah catatan tentang Nietsche)

“Tuhan yang kau anggap mati akhirnya kau rindukan juga.

Mungkin saat kau menjadi pertapa dan bertemu dengan Zarathustra

Tuhan malah sedang tertawa (di rumah kekalmu masih terbaca “Berikan aku makan dan minum, aku lupa melakukannya siang tadi!”)

Pati, Januari 04




Pujianto

PESAN TANPA TEKS

Di depan televisi ada pesan untuk penduduk di negeri ini ”Gunakan tiga kali sehari setiap habis mandi dan kau akan dapatkan tubuhmu selembut dan seputih puteri salju!”

Sebuah sihir paska zaman edan yang perintah tuan lebih di taati dari pada perintah Tuhan.

Sekali lagi ini hanya sekedar parodi modernisasi.

Kalau tak percaya “Rasain deh lu!”

(di rumah anak-anak membangun puing-puing fantasi kotak kaca hingga tubuhnya mengkristal dipenuhi pulsa).

Pati, Januari 04

ZIARAH KERTAS MERAH

Pujianto

ZIARAH KERTAS MERAH

-Iwan Simatupang-

Berwaktu-waktu telah kita kumpulkan segelas kesimpulan simbol-simbol kepulangan ayat-ayat akar, daun, pohon-pohon dari legenda masa silam kelam di bawah keranda tandus tanah.Takdir kehilangan kartu nama di ujung benua (pagi tadi sejumlah media mencemaskan seluruh warga kota). Kelak jika suatu hari kau temukan sisa-sisa kerangka kota membatu di tapal batas lingkaran kertas, jangan bertanya kisah satwa-satwa yang mati kehausan di arus air mata penyair tempat para nelayan melemparkan jala-jala usia sambil bersorak-sorai ohoi…kita telah sampai! Kita telah sampai! Dan kitapun pergi mengekalkan kekalahan pada batu karang kampung tempat kita berumah kehilangan ritus tanah. Kota-kota berbicara tapi tidak sederhana.

Berapa hari lagi kau baca sejarah tanah leluhur terkubur di koran pagi?

Tanah keruh, tanah jarah, tanah sampah, tanah serapah. Sepanjang jalan menawarkan pesan-pesan kecemasan, huruf-huruf yang tak pernah kukenali, ini hari penuh laknat. ”Apa Tuhan berkhianat?” Kabar apa terkirim ke negeri seberang

Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!

Jarak yang disesatkan waktu sebab jam-jam berhenti meruang dan menyatakan waktu tak pernah ada.

Kepadamu :

Kita tumbuh sebatas bayang-bayang tubuh, rapuh sejauh apa kita kehilangan bahasa, tak ada lagi bangunan rumah bunga.

Konon seluruh pelosok kota di penuhi penjarahan

Pati, Mei 06

HIKAYAT TAMAN TERBACA BATU

Pujianto

HIKAYAT TAMAN TERBACA BATU

Di taman batu, kau aku pernah berumah, tak ada telepon genggam, pendingin udara, kartu kredit, sabun, kulkas, pohon pisang, air kali, dan gendhing kebo giro (konon saat itu mula pertama Adam membaca anatomi tubuh Siti Hawa )

Siapa berumah di taman, bernisan di batu?

Kelak kau maknai mimpi bebatuan pada lautan limbah di luar pendusta terjaga.

“Kabarnya sebentar lagi datang bencana”

Ikan batu, karang batu, buru-buru siapkan pakaian.

”Tenanglah!” Bencana abad ini hanyalah pohon peristiwa masa lalu kita.

Tanah-tanah tandus kehilangan humus. Sungai-sungai tumpah penuh sampah, kota-kota rentan tertimbun mall, dan proyek jalan tol.

Kau aku jadi tolol rindukan berumah di taman dipenuhi pohon-pohon jambu juga sayap kupu-kupu membangun kenangan masa kanak-kanak menatapi jalanan dipenuhi kokok ayam kampung lalu ayah ibumu mengingatkan “Jangan terlalu memperhatikan sesuatu!”

Esoknya kita masih bisa mengenali nama-nama: Si Kancil, Nyai Roro Kidul, Ronggowarsito hingga Sunan Kalijaga.

Dalam risau engkau mengigau, aku ingin pulang ke taman bernisan di batu, begitulah katamu.

Lalu bunga apa ingin kau pahat di tubuh Hawa. Kau lihat ikan-ikan berumah di kotak kaca, anak-anak berumah di layar kaca (di depan televisi fantasi begitu memabukkan ). Kampung-kampung kehilangan ladang jagung, murung tanpa keheningan. Di luar alangkah riang kafe-kafe, mengusir doa-doa dari tubuhmu, melengkapi haus serangga menunggu hujan pulang (konon musim telah diganti peradaban mesin untuk menerjemahkan segumpal daging yang telah kita perebutkan).

Kita relakan saja kepulangan angin, keheningan batu, melupakan kau aku.

Aku mencari aku, kamu mencari kamu. Konon bising kota melahirkan rimbun pohon kata tempat sekawanan anak burung membuka lahan peradaban yang sesungguhnya untuk membangun rumah ajal.

Larungkan! Larungkan! Larungkan! Kembali ke muara asal kini kau aku menjelma taman berumah di awan menjelma batu kembali ke hulu

Pati, Mei 06

ANATOMI TUBUH LARUNG SAMAN

Pujianto

ANATOMI TUBUH LARUNG SAMAN

-Ayu Utami-

Hari-hari bagi perawan suci seperti lorong tanpa teks

Menyinari sekaligus mengaburkan

“Itukah anatomi tubuhmu?”

Kelak akan kubaca dikelembaban sampah koran bekas di halaman hujan.

Gerimis pertama tersesat hinggap di reruntuhan pohon pengetahuan yang tak pernah kekal dan utuh.

Kini musim mengantarkan tubuh pohon itu tumbuh di pojok mall, mesum dan penuh bunga-bunga asongan dan kitapun terpaksa menjadi sepasang pengantin.

Tergopoh-gopoh berjalan mendaki tubuh bulan, membabat hutan-hutan, membunuh hewan-hewan hingga empat puluh hari empat puluh malam, cerita ini berawal.

“Bukalah matamu”

“Apakah kau melihat rumah Tuhan”

Tidak, aku tak pernah melihatnya!

“Lalu apa yang kamu lihat?”

Aku hanya melihat rumah para juragan!

Rumah itu dipenuhi taman dari tulang belulang, di pekarangan anak-anak belajar membaca peradaban dengan pisau di tangan kiri dan telepon genggam di tangan kanan.

“Lalu kemana kita akan berumah?”

Di rahim tanah.

“Di mana itu letaknya?”

Perempuanku menengadah, ia mengingat-ingat pesan Emaknya di rumah.

“Kelak kalau engkau sampai di kota, belilah sepasang celana untuk menutupi segumpal daging warisan (konon dihari itu, para malaikat diturunkan dari langit untuk menukar tubuh kakek moyangmu Adam dengan sebutir padi).

Saat itu tubuhku gemetaran, aku tak paham kata-katanya.

“Jangan kau dengar kata-katanya!”

Kelak kau akan terluka.

“Lalu kita harus bagaimana?”

Menjelang pagi di hari ulang tahunku bunuhlah aku!

“Aku tak tega “

Kau harus tega!

Besok kukirimi engkau senapan, saat tubuhku rebah di tanah dirikan rumah lengkap dengan perabotan kaca, setangkai pulsa, kerangka bunga, seperti kisah dihalaman buku seribu satu malam yang tak lengkap kau baca.

Kuinginkan tubuhku kekal di dalamnya (dihari itu, pertama kali kulihat engkau tertawa, tak ada air mata, kelak kau akan pahami rumah Tuhan hanyalah sejengkal tanah kelahiran, tak ada telepon genggam, tak ada mie instan, tak ada pohon pernikahan.Di halaman hanya tumbuh pohon rambutan tempat kau aku akan mengulang kisah kenangan warisan Emakmu)

Pati, Januari – April 06

ANATOMI TUBUH LARUNG SAMAN

ANATOMI TUBUH LARUNG SAMAN

-Ayu Utami-

Hari-hari bagi perawan suci seperti lorong tanpa teks

Menyinari sekaligus mengaburkan

“Itukah anatomi tubuhmu ?”

Kelak akan kubaca dikelembaban sampah Koran bekas di halaman hujan

Gerimis pertama tersesat hinggap di reruntuhan pohon pengetahuan yang tak pernah kekal dan utuh

Kini musim mengantarkan tubuh pohon itu tumbuh di pojok mall, mesum dan penuh bunga-bunga asongan dan kitapun terpaksa menjadi sepasang pengantin

Tergopoh-gopoh berjalan mendaki tubuh bulan,membabat hutan-hutan, membunuh hewan-hewan hingga 40 hari 40 malam,cerita ini berawal

“Bukalah matamu”

“Apakah kau melihat rumah Tuhan”

Tidak,aku tak pernah melihatnya

“Lalu apa yang kamu lihat?”

Aku hanya melihat rumah para juragan

Rumah itu dipenuhi taman-taman dari tulang belulang,di pekarangan anak-anak belajar membaca peradaban dengan pisau di tangan kiri dan telepon genggam di tangan kanan

“Lalu kemana kita akan kerumah?”

Di rahim tanah

“Di mana itu letaknya?”

Perempuanku menengadah ia mengingat-ingat pesan emaknya di runah

“Kelak kalau engkau sampai di kota belilah sepasang celana untuk menutupi segumpal daging warisan(konon dihari itu para malaikat diturunkan dari langit untuk menukar tubuh kakek moyangmu Adam dengan sebutir padi)

Saat itu tubuhku gemetaran,aku tak paham kata-katanya

“Jangan kau dengar kata-katanya”

Kelak kau akan terluka

“Lalu kita harus bagaimana?”

Menjelang pagi di hari ulang tahunku bunuhlah aku

“Aku tak tega “

Kau harus tega

Besok kukirimi engkau senapan saat tubuhku rebah di tanah dirikan rumah lengkap dengan perabotan kaca, setangkai pulsa ,kerangka bunga,seperti kisah dihalaman buku 1001 malam yang tak lengkap kau baca

Kuinginkan tubuhku kekal di dalamnya (dihari itu pertama kali kulihat engkau tertawa, tak ada air mata, kelak kau akan pahami rumah Tuhan hanyalah sejengkal tanah kelahiran tak ada telepon genggam, tak ada mie instant ,tak ada pohon pernikahan.Dihalaman hanya tumbuh pohon rambutan tempat kau aku akan mengulang kisah kenangan warisan ibumu)

PATI , Januari – April 06

Profil pengantar

MIMPI IMAJINASI & PENCIPTAAN YANG TIDAK BERDASARKAN BENAR DAN SALAH

Aku tidak ingin menciptakan batasan-batasan antara ilusi dan yang nyata antara yang benar dan yang salah , sebab bagi saya segala bentuk wacana ,teori, estitika yang di anggap paling benar sekalipun tidak seluruhnya benar.

Kegelisahan , kemiskinan, dan ketertindasan adalah guru saya yang senantiasa mengusik diri saya untuk melahirkan coretan- coretan puisi, untuk sekedar mengisi waktu luang atau sekedar mengatasi kesia-siaan hidup.Saya tak perduli apakah tulisan -tulisan saya dipuji ,dibenci ,dimuat di media massa atau di bakar sekalipun yang penting penting tulisan-tulisan itu bisa memenuhi gejolak-gejolak nurani akan sebuah pandangan hidup meski hanya sebatas konfrontasi diri.

Boleh dikata setiap puisi saya mempunyai beragam karakteristik yang tercipta melalui jalannya sendiri-sendiri.Buku,peristiwa dan sosok pribadi adalah sumber ispirasi yang tak pernah habis untuk di tulis.Terakhir kepada ibu juga imam bocah yang memberi energi dan ispirasi yang begitu berharga bagi saya, nonox boswin untuk secangkir kopi manis dan rentalnya.Juga semua kawan-kawan dari tukang becak, kuli bangunan, gelandangan sampai yang punya kemapanan.Terima kasih atas dorongannya,pertenuan dan kepahitan hidup yang mendorong saya terus termotivasi untuk sekedar menulis.