Pujianto
ANATOMI TUBUH LARUNG SAMAN
-Ayu Utami-
Hari-hari bagi perawan suci seperti lorong tanpa teks
Menyinari sekaligus mengaburkan
“Itukah anatomi tubuhmu?”
Kelak akan kubaca dikelembaban sampah koran bekas di halaman hujan.
Gerimis pertama tersesat hinggap di reruntuhan pohon pengetahuan yang tak pernah kekal dan utuh.
Kini musim mengantarkan tubuh pohon itu tumbuh di pojok mall, mesum dan penuh bunga-bunga asongan dan kitapun terpaksa menjadi sepasang pengantin.
Tergopoh-gopoh berjalan mendaki tubuh bulan, membabat hutan-hutan, membunuh hewan-hewan hingga empat puluh hari empat puluh malam, cerita ini berawal.
“Bukalah matamu”
“Apakah kau melihat rumah Tuhan”
Tidak, aku tak pernah melihatnya!
“Lalu apa yang kamu lihat?”
Aku hanya melihat rumah para juragan!
Rumah itu dipenuhi taman dari tulang belulang, di pekarangan anak-anak belajar membaca peradaban dengan pisau di tangan kiri dan telepon genggam di tangan kanan.
“Lalu kemana kita akan berumah?”
Di rahim tanah.
“Di mana itu letaknya?”
Perempuanku menengadah, ia mengingat-ingat pesan Emaknya di rumah.
“Kelak kalau engkau sampai di
Saat itu tubuhku gemetaran, aku tak paham kata-katanya.
“Jangan kau dengar kata-katanya!”
Kelak kau akan terluka.
“Lalu kita harus bagaimana?”
Menjelang pagi di hari ulang tahunku bunuhlah aku!
“Aku tak tega “
Kau harus tega!
Besok kukirimi engkau senapan, saat tubuhku rebah di tanah dirikan rumah lengkap dengan perabotan kaca, setangkai pulsa, kerangka bunga, seperti kisah dihalaman buku seribu satu malam yang tak lengkap kau baca.
Kuinginkan tubuhku kekal di dalamnya (dihari itu, pertama kali kulihat engkau tertawa, tak ada air mata, kelak kau akan pahami rumah Tuhan hanyalah sejengkal tanah kelahiran, tak ada telepon genggam, tak ada mie instan, tak ada pohon pernikahan.Di halaman hanya tumbuh pohon rambutan tempat kau aku akan mengulang kisah kenangan warisan Emakmu)
Pati, Januari – April 06
Tidak ada komentar:
Posting Komentar