1.4.08

ZIARAH KERTAS MERAH

Pujianto

ZIARAH KERTAS MERAH

-Iwan Simatupang-

Berwaktu-waktu telah kita kumpulkan segelas kesimpulan simbol-simbol kepulangan ayat-ayat akar, daun, pohon-pohon dari legenda masa silam kelam di bawah keranda tandus tanah.Takdir kehilangan kartu nama di ujung benua (pagi tadi sejumlah media mencemaskan seluruh warga kota). Kelak jika suatu hari kau temukan sisa-sisa kerangka kota membatu di tapal batas lingkaran kertas, jangan bertanya kisah satwa-satwa yang mati kehausan di arus air mata penyair tempat para nelayan melemparkan jala-jala usia sambil bersorak-sorai ohoi…kita telah sampai! Kita telah sampai! Dan kitapun pergi mengekalkan kekalahan pada batu karang kampung tempat kita berumah kehilangan ritus tanah. Kota-kota berbicara tapi tidak sederhana.

Berapa hari lagi kau baca sejarah tanah leluhur terkubur di koran pagi?

Tanah keruh, tanah jarah, tanah sampah, tanah serapah. Sepanjang jalan menawarkan pesan-pesan kecemasan, huruf-huruf yang tak pernah kukenali, ini hari penuh laknat. ”Apa Tuhan berkhianat?” Kabar apa terkirim ke negeri seberang

Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!

Jarak yang disesatkan waktu sebab jam-jam berhenti meruang dan menyatakan waktu tak pernah ada.

Kepadamu :

Kita tumbuh sebatas bayang-bayang tubuh, rapuh sejauh apa kita kehilangan bahasa, tak ada lagi bangunan rumah bunga.

Konon seluruh pelosok kota di penuhi penjarahan

Pati, Mei 06

Tidak ada komentar: